“Saat
Nabimu dihina, apa wujud pembelaanmu sebagai bukti cintamu kepadanya?”
Bukan tak mungkin -kelak di Hari Perhitungan- itu adalah salah satu
pertanyaan terpenting yang harus kita jawab.
Nabi Muhammad SAW manusia paling mulia. Sedemikian mulianya, bahkan Allah dan para Malaikat bershalawat kepadanya. “Sesungguhnya
Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang
yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam
penghormatan kepadanya” (QS Al-Ahzab [33]: 56).
Nabi SAW adalah manusia yang harus paling dicintai umat Islam. Tentang ini, Nabi SAW sendirilah yang mengajarkannya. “Tidaklah benar keimanan seorang dari kalian sampai aku menjadi orang yang lebih dia cintai dari anaknya, dari orangtuanya bahkan dari seluruh manusia sekalipun” (HR Bukhari, Muslim dan al-Nasa’i).
Nabi SAW adalah manusia yang harus paling dicintai umat Islam. Tentang ini, Nabi SAW sendirilah yang mengajarkannya. “Tidaklah benar keimanan seorang dari kalian sampai aku menjadi orang yang lebih dia cintai dari anaknya, dari orangtuanya bahkan dari seluruh manusia sekalipun” (HR Bukhari, Muslim dan al-Nasa’i).
Terkait kadar cinta kita kepada Nabi SAW, dialog Umar bin Khaththab ra dengan Nabi SAW berikut ini menarik. Suatu ketika Umar ra berkata kepada Nabi SAW, “Demi Allah wahai Rasulullah, engkau adalah orang yang paling aku cintai dari apapun kecuali dari diriku sendiri”. Nabi SAW menjawab, “Tidak begitu wahai Umar. Engkau keliru. Aku harus lebih engkau cintai, bahkan dari dirimu sendiri”. Umar sadar akan kekeliruannya, lalu berkata, “Demi Allah, engkau lebih aku cintai dari apapun, bahkan dari diriku sendiri”. Nabi SAW tersenyum dan berkata, “Sekarang, telah sempurna imanmu wahai Umar” (dari HR Bukhari).
Di September 2012, kembali Nabi SAW dihina dan kali ini lewat film The Innocence of Muslims.
Si pembuat film berkewarganegaraan AS. Saat trailer film tersebut
diunggah di Youtube, sontak menuai kecaman dari berbagai penjuru.
Setidaknya, ada empat catatan yang bisa kita cermati. Pertama, tampak The Innocence of Muslims sejak awal dibuat berdasarkan niat buruk. Proses pembuatannya penuh tipu daya. Proses editing gambar dan narasi, manipulatif. Para awak film-nya dibohongi, misal tentang jalan cerita dan peran mereka. Si pembuat tiba-tiba mengubah judul dan naskah di tengah-tengah proses syuting. Awalnya, produser mengaku akan menggarap film berjudul "Desert Warrior", sebuah film sejarah Arab di gurun .
Kedua, kecuali untuk menghina Nabi SAW dan memberi citra yang salah tentang (umat) Islam, sangat mungkin si pembuat film berniat memrovokasi umat Islam agar marah. Lalu, ketika umat Islam ‘bergerak’, stempel tebal akan lebih mudah mereka timpakan kepada umat Islam sebagai ‘sang teroris’.
Ketiga, selama ini umat Islam kerap dituding sebagai pihak yang tidak toleran. Tapi, kasus The Innocence of Muslims membuktikan hal sebaliknya. Si pembuat film tidak mau memerhatikan bagaimana posisi Nabi SAW yang sangat mulia dan sangat dihormati umat Islam. Lalu, penguasa di negara tempat film itu dibuat tampak melindungi si pembuat film dengan bersandar kepada bualan usang bahwa itu bagian dari “kebebasan menyatakan pendapat dan berekspresi”.
Berbagai kasus penghinaan –termasuk lewat The Innocence of Muslims-
adalah bukti tak terbantahkan bahwa sejatinya mereka (antara lain si
pembuat film itu plus semua yang berpihak kepadanya) adalah pihak yang
tak pernah menghargai perasaan orang lain (baca: umat Islam). Merekalah
yang tak toleran.
Terakhir, keempat, penentangan terhadap The Innocence of Muslims yang dilakukan umat Islam secara merata di berbagai belahan dunia adalah ekspresi tak terbantahkan bahwa iman masih bersemayam di diri mereka. Bahwa ketika Nabi SAW –Sang Tercinta- dihina, umat Islam akan habis-habisan membelanya. Untuk apa? Agar tak gagap menjawab pertanyaan diatas.
disadur dari : M. Anwar Djaelani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar